Apa yang sebenarnya terjadi? saya terkadang benar-benar lelah, melewati pijaran lampu di jalan, menembus butiran debu kajamnya kota, sesekali ku peejamkan mata, hidup terlalu memaksaku, tajamnya pisau menusuk jiwaku, dan waktupun berlalu, kemudian tak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Lelah ku taklukkan jalan, sempitnya sang waktu kini ku terhenti, bukankah hidup hanya persinggahan, sementara waktupun terus bergulir
Merasakan diamnya kegelisahan diantara raungan matahari sebagai penerang yang memberikan kekeringan, memuakkan.
Memilihku ladang tandus, berharap hujan akan memberikan keharuman tanah, terus dan terus berharap, namun ku masih tetap diam, seperti harapan tinggal harapan.
waktu cepatlah berlalu, aku hanya ingin melawati. dan yang terjadi tetap saja bayangku yang mengikuti, bukan pelangi yang menghiasi.
ini jalanku, takdirku, sampai saat ini, melihatmu dengan sebelah mata. mendengarkanmu dengan kedua telinga, dan kakiku masih disini.
sekelumit kata terucap, mengiris memang, tapi bagiku busuk yang keluar dari mulutmu humus bagi tandusku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar