Sempat terlupa dalam ingatan saya, kira kira tahun 1995, tepat di hari raya idul adha. Saya masih SD waktu itu, Dimana pada saat itu adalah masa tersulit bagi keluarga saya, masa dimana keluarga saya harus menanggung berat beban financial, serba kekurangan. Banyak atap rumah yang bocor, kursi kursi berlubang dimakan usia, Tv hitam putih merk JVC tang ketika di hidupkan selalu berbunyi ngiingg... selama 5 menitan. Tak ada radio, tak ada kulkas, tak ada kompor minyak. Ya kami menggunakan tungku kayu untuk memasak.
Pada suatu pagi satu minggu sebelum hari lebaran idul adha, ayah dan ibu saya pergi, pagi pagi buta, hingga saat saya bangun, beliau berdua sudah tidak ada dirumah. Kemudian saya coba bertanya pada kakak saya yang pertama, “mbak ibuk sama bapak kemana” tak ada jawaban, entah memang tak mau menjawab atau benar benar tidak tau.
Beberapa hari setelah di tinggal bapak sama ibu saya, kami benar benar makan seadanya. Terkadang saya harus kerumah kakek saya intuk meminta makan, pernah suatu ketika saya makan di rumah kakek saya, beliau bertanya, ibu kamu kemana? Saya diam dan melanjutkan makan, kemudian nenek saya juga bertanya, kemana ibu kamu, mulai detik itu saya benar-benar tak dapat menahan air mata, yah saya makan sambil menangis, karena saya benar-benar tidak tahu kemana beliau berdua pergi, kakek dan nenek saya mencoba menenangkan saya dengan duduk di sebelah saya. Hmm.. baru kali itu saya melihat kakek dan nenek saya duduk akur, sayapun mulai tenang. Dan menjawab “saya tidak tau nek kek “. Kemudian semua hening, melihat TV bertiga, saya benar-benar yakin, kakek dan nenek saya tidak benar-benar melihat TV, tatapan mereka kosong, seperti halnya saya.
Setelah satu minggu berjalan, tepatnya, dan bertepatan juga dengan hadi raya idul adha, satu hari sebelum idul adha saya dan kakak pertama saya puasa. Entah hari apa itu, pagi itu saya dan kakak saya berjalan ke pasar, yang jaraknya agak lumayan jauh, yah kami berjalan, karena memang tidak memiliki sepeda motor. Kakak saya membeli daging, 0,5kg cukup untuk kami berdua, di jalan kami bertemu dengan bulik kamu, beliau berhenti, dan mencoba menanyakan, dimana bapak dan ibu saya, kakak saya dan mulai memandangi saya yang sedang menenteng belanjaan, saya diam, kakak saya menjawab tidak tau. Kemudian saya menjawab dengan sedikit air mata. Ya saya rasa itu cukup menjadi jawaban untuk bulik saya.
Sesampai dirumah kamipun memasak ayam, karena pada waktu itu kami belum memiliki kulkas, jadi daging harus dimasak secepatnya. Kemudian esoknya subuh saya dan kakak saya mulai bangun dan memasak daging ayam yang kami beli sebelumnya. Kamu goreng, ahh rasanya sepertinya enak sekali, saya pun ingin mencicipi tapi tidak diperbolehkan kakak saya. Semua sudah siap, nasi, ayam doreng dan sambel tentunya, tanpa ada tambahan apa-apa. Kemudian kami berdua sholat ied.
Sepulang sholat ied, saya berlari.. ahh rasanya sudah lapar sekali saya, apalagi makan ayam hmm... bagi keluarga kami ayam pada saat itu adalah makanan yang paling spesial. Jarang sekali makan ayam. Setelah membuka pintu, melepas sarung langsung menuju ke lemari makan, kemudian saya merasa ada yang salah di lemari makan..... ya, kucing saya menghabiskan ayam yang saya simpan. Masih ingat betul dalam ingatan saya, yang tersisa hanya 1 paha ayam, dan itupun sudah sebagian di makan kucing. Dalam hati saya marah, dan benar benar marah, saya mencoba mencari kucingnya, namun tidak ketemu. Kemudian saya kembali ke lemari makan, dan ternyata kakak saya sudah menyiapkan nasi dan sepotong paha ayam sisa kucing tadi untuk saya, kakak saya berkada, “sudah kita makan seadanya, masih bersyukur ada sisa” ya.. saya membawa nasi ke meja makan, disutulah untuk kedua kalinya saya makan sambil menangis, ya saya makan sisa kucing. Lebaran yang tragis memang, namun saya yakin, banyak makna disutu, 2minggu sudah kami di tinggal bapak ibu, tanpa kabar, pada jam 10 malam tepat dua minggu saya di tinggal bapak ibuk pergi, saya dibangunkan bapak, sebenarnya tidak membangunkan, namiun sensitivitas saya terhadap suara sangat tinggi, hingga ada orang datang pasti saya terbangun, saya banun, bapak mendekati saya, “kamu sudah makan” dan saya jawab iya sudah tadi sore, kemudian bapak membawa bungkusan “yaudah sekarang makan dulu” yahh bapak membawa ayam goreng, satu kardus, namun tanpa nasi, bapak yang menanakkan nasi di dapur, satu jam kemudian baru kami makan bersama, saya kakak saya dan bapak, ada yang aneh sebenarnya, namun saya tidak mau merusak suasana makan, dan lagi pada saat itu saya cukup lapar. Selesai makan kakak saya bertanya, “trus ibuk kemana pak” bapak saya menjawab dengan senyum “besuk kita menemui ibu” satu malam itu saya benar benar tidak dapat tibur hingga pagi hari menjelang, mandi dan kami bertiga menuju tempat yang saya tidak tahu menggunakan bis dahlia jurusan porwokerto, ya saya masih ingat betul. Saya duduk paling depan bersama bapak saya, ya saya sadar saya anak paling dimanja bapak saya, hingga sekarang.
Sesampainya di temapat, kami turun bus, dan melanjutkan perjalanan dengan menyewa angkot, bapak saya memang begitu, kadang tidak mau anaknya susa, kamipun menyewa, tidak mengikuti angkot dengan ada penumpang lain. Jalannya menanjak, naik ke bukit, ya pada saat itu saya benar-benar takut, baru kali itu saya naik bukit menggunakan mobil. Tempat itu di daerah karanganyar kebumen.
Sesampainya di tempat, saya benar-benar menyiapkan diri untuk ketemu ibu saya. Sampai waktunya tiba, ibu saya tidur di sebuah kamar, detik itu juga saya menangis, namun tidak berani mendekat ibu saya, kakak saya yang mendekat, memeluk ibu saya, bapak saya yang menenangkan saya. Memeluk saya, entah apa yang terjadi kami semua menangis, termasuk kamar sebelah yang baru saja berbincang dengan ibu saya.ya baru kali ini saya melihat ayah saya menangis dan memeluk saya, ayah saya seorang yang galak dimata saya, namun penyayang terhadap anaknya, seorang yang paling kuat ketika memiliki keputusan, beliau menangis.
Ahh senengnya bisa kumpul, hanya kurang satu, kakak saya yang kedua, beliau kuliah di uns, jadi tidak bisa datang. Kemudian kamipun berbincang hangat, ayah saya menceritakan kenapa dan alasan apa tidak memberi tahu, dan kamupun dapat memahami itu. Sangat bisa memahami. Beberapa hari disitu banyak kabar gembira, ibu saya dinyatakan sehat 100%, dan memang benar.
Dan sekarang alhamdulillah, keadaan semua sudah berubah, dar ketikai kakak saya yang pertama sudah bekerja, kondisi ekonomi kami mulai pulih, makan kami mulai teratur, dan sampai saat ini banyak sekali impian impian keluarga kami yang telah di dapat. Nasib telah merubah keluarga kami.
Terima kasih Ya Allah...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar